![]() |
Welcome To Jogyakarta |
Hujan
gerimis di awal tahun ini, menyambut kami setibanya di kota yang biasa disebut
kota budaya atau kota pelajar, Jogjakarta. Hari ke 3 di tahun baru, ternyata banyak pelancong
yang masih betah disana. Ini ditandai
dengan kesulitan yang kami dapatkan ketika mencari penginapan. Satu persatu
penginapan di Jl. Dagen kami datangi, penuh.
Akhirnya kami berjodoh di salah satu hotel di Gg. Sosrokusuman, yaitu Hotel
Puri.
Hotel
yang letaknya cukup strategis ini (di belakang Malioboro Mall) terlihat nyaman
dan bersih dengan harga kamar yang lumayan murah. Menurut cerita si pemilik
hotel ini adalah salah satu dari 2 hotel tertua di kawasan Malioboro yang masih
berdiri dengan bangunan asli.
Malam
harinya kami habiskan berjalan-jalan dan makan di lesehan di sekitar Malioboro. Suasana jalanan Malioboro malam itu sangat
ramai sekali dan kemacetan pun tak terhindarkan.
Hari-hari
berikutnya kami habiskan untuk mengunjungi beberapa spot wisata di Jogjakarta
dan sekitarnya. Hujan yang turun setiap hari di Yogya saat itu tak menghalangi
niat kami untuk mengeksplor kota Gudeg ini selama 5 hari.
Gunung
Api Purba, Candi Prambanan, Candi Boko, Alun-alun Timur, Keraton, Air Terjun
Sri Gethuk, Pantai Parangtritis dan Pantai Indrayanti hingga bertubing di Gua Pindul
kami datangi.
Gunung
Nglanggeran atau biasa disebut Gunung Api Purba merupakan salah satu kawasan
alam yang litologinya disusun materi vulkanik tua tinggi. Berdasarkan
penelitian, gunung api ini merupakan gunung berapi aktif sekitar 60 juta
tahun lalu. Banyak batu berukuran raksasa yang membuat takjub disana yang menurut cerita warga
sekitar, tak jarang tempat ini dijadikan sebagai tempat pertapaan. Perjalanan yang sedikit menguras tenaga akan terbayarkan ketika kita sampai di bagian atas dan melihat pemandangan sekeliling.
![]() |
Di celah batu menuju puncak |
![]() | |
Memanjat Batu |
Selain
melihat langsung kemegahan kompleks candi hindu terbesar di Indonesia yang
dibangun pada abad ke-9 masehi, yaitu Candi Prambanan. Candi yang diperkirakan
tempat persemayaman raja-raja ini dikenal sebagai salah satu ikon kebudayaan
Indonesia. Walaupun hingga saat ini belum dapat dipastikan siapa yang
memerintahkan untuk membangunnya. Perjalananan berlanjut ke Candi Boko yang
berjarak sekitar 2 km dari Prambanan.
Candi dengan luas sekitar 250.000 meter persegi ini, menurut para ahli bangunannya
berbentuk perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Budha.
Jika
berdiri di area Plaza Andrawina, salah satu bagian dari candi ini pengunjung
akan dapat melihat pemandangan Kota Jogyakarta dan Candi Prambanan dengan
Gunung Merapi sebagai latar belakangnya.
![]() |
Kompleks Candi Prambanan |
Agak
kurang sah sepertinya, jika ke Yogyakarta tidak sowan ke Keraton Kesultanan Jogjakarta. Selesai menyisir pasar
tradisional di Malioboro, Beringharjo maka kami langkahkan kaki menuju Keraton
dengan menumpang becak. Setelah selesai mengagumi keindahan keratin dengan
segala budayanya, kami menikmati waktu malam di Alun-alun utara dan merasakan
beberapa permainan klasik yang memang sudah lama tidakdilakoni bahkan
dilihat. Seperti Kincir Angin atau ‘Tong Stand’, entah
kapan terkahir kalinya saya menonton pertunjukan ini. Entah !
![]() |
1928 |
![]() |
Pertunjukan Tong Stand |
![]() |
Kincir Angin |
Gua
pindul, gua dengan aliran sungai bawah tanah kami telusuri selama sekitar 45
menit. Dengan menggunakan ban dalam yang
dipompa, menyusuri gua sepanjang sekitar 300 meter itu merupakan pengalaman
yang berbeda. Susunan skalaktit dan stalakmit yang tak
beraturan, sampai dengan sarang burung walet.
Di
ujung gua tempat keluar, ada bagian atas yang terbuka membuat matahari bebas
menerjang dengan sinarnya.
![]() |
Stalaktit di Gua Pindul |
Siapa
yang tak kenal Pantai Parangtritis ? kesana pula kami berkunjung. Suasana sangat ramai dengan pengunjung yang
berenang dibagian pinggir, bermain-dengan ombak yang menyapu kepinggir pantai
atau sebagian lagi duduk bersantai menikmati pemandangan laut dengan jagung
bakar ditangan. Beberapa fasilitas yang
tak kami lewatkan disana adalah ATV, berkuda dan naik delman. Suasana yang beda saat tiba dikawasanpantai-pantai
Gunung Kidul, hujan deras turun tak henti-hentinya. Dikarenakan ombak yang masih tinggi di bulan
Januari, maka para pengunjung tidak diperbolehkan mendekat kearah laut, dengan
alasan keselamatan.
![]() |
Delman di Parangtritis |
Salah
satu kendala yang mungkin masih terasa dalam urusan transportasi adalah, masih
kurangnya angkutan umum yang dapat mengantarkan pengunjung untuk mendatangi ke
tempat-tempat wisata yang letaknya lumayan jauh dari pusat kota Jojya.
Tak
ingin kehabisan waktu dan demi efisiensi, kamipun menyewa sepeda motor selama
berkeliling disana.
Jogjakarta,
masih menjadi salah satu primadona bagi wisatawan khususnya domestik dengan
segala keramahan dan keunikannya.