Monday, October 24, 2016

Taman Nasional Gunung Merbabu – Disapa Kabut Selo (FamilyGoesToNationalPark)




“Here we are! The wind, fog and rain had been incredible. We are having the time of our lives...”

Sempat terpikir dan berdiskusi untuk menjelajahi Taman Nasional Baluran sekaligus Taman Nasional Merubetiri dalam satu perjalanan, namun setelah mempertimbangkan beberapa hal, kami putuskan untuk tidak melakukannya dalam penjelajahan #FamilyGoesToNationalPark kali ini.

Membolak-balik buku Taman Nasional yang saya punya dan juga melihat-lihat di internet, Taman Nasional Gunung Merbabu menjadi putusan kami.
Selain browsing di internet, saya juga menanyakan tentang Gunung Merbabu ini lewat FB serta japri ke beberapa teman.  Gunung yang mempunyai ketinggian 3142 mdpl ini bisa didaki melalui 4 jalur yang menurut informasi setiap jalur memiliki pemandangan alam dan tingkat kesulitan yang berbeda.  3 jalur lainnya adalah Kopeng, Wekas dan Suwanting.
Jalur Selo adalah yang kami pilih setelah mendapatkan informasi yang kami rasa cukup dan seperti biasa, kami diskusikan bertiga tentang lama perjalanan, medan dan hal-hal lainnya. Selain itu, kita juga selalu mempersiapkan fisik untuk melakukan olahraga yang juga sekaligus refreshing ini.

Selesai menjemput Azzam pulang dari sekolah, kami langsung menuju bandara Soekarno-Hatta. 
Sempat molor sekitar setengah jam, akhirnya kami tiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta.  Mas dede, saya sudah diparkiran.  Itu pesan WA yang saya terima dari mas Gito.  Mas Gito adalah anak mantu dari Pak Parman, pemilik basecamp yang membantu kami dalam penjelajahan kali ini.

Satu orang teman, Sugi sudah tiba di Jogya sore tadi.  Sesuai janji dia menjumpai kami di bandara.  Segera kami berlima meluncur menuju Selo.
Tiba di basecamp Pak Parman sekitar pukul 11 malam, tampak ada beberapa orang pendaki yang sudah lebih dulu datang dari kami dan tampaknya mereka sudah lelap dalam tidurnya.
Basecamp Pak Parman bisa dikatakan adalah salah satu basecamp yang paling lama berdiri di jalur pendakian Selo.  Disanalah kami akan menginap malam harinya sebelum memulai pendakian keesokan paginya.

Sekitar pukul 7 pagi saya terbangun dan bertemu dengan Pak Parman yang memang tadi malam ketika kami tiba, beliau sudah tidur.  Sambil memperkenalkan diri, istri saya, Azzam dan juga Sugi, kami lalu memesan sarapan juga bekal untuk pendakian.
Setelah berpamitan ke Pak Parman dan istrinya, kami ber 4 beserta 2 orang porter yang akan menemani, mas Nang dan mas Agus berdoa bersama sebelum memasuki pintu masuk pendakian Taman Nasional Gunung Merbabu.

Siap Mendaki


Di perjalanan Azzam beberapa melantunkan nyayian yang saya sendiri belum pernah dengar sebelumnya.  Sesekali dia juga minta untuk berhenti, beristirahat.
“Paling kalo irama kita jalan begini, insya allah jam 12 kita sampai di Pos 2” ujar Mas Nang ketika saya tanyakan estimasi perjalanan ketika kami beristirahat di Pos 1.  Oiya, tadi kami memulai perjalanan dari bawah sekitar jam 9 pagi.

Jalan masih panjang :)

Beberapa meter sebelum memasuki Pos 2, “Mana raspberry nya?” ujar azzam setengah berteriak pada siapa saja yang ada disekitarnya.  Dia ingat pesan Pak Parman ketika masih di basecamp bahwa aka nada buah raspberry di Pos 2.  Mas Nang pun mengajak Azzam untuk memetik buah Raspberry yang membuat dia penasaran.
Meskipun rasanya sedikit asam, namun dia menghabiskan tak kurang dari 10 buah!


Istirahat di Pos 2

Meninggalkan Pos 2
 
Dengan bibir yang kebiru-biruan bekas menyantap raspberry, kamipun meninggalkan Pos 2.  Perjalanan berlanjut menuju Pos 3.  Ada tanjakan yang lumayan curam terakhir sebelum memasuki Pos 3.  “Ayo, Zam dikit lagi sampe nih”, ujar saya menyemangatinya dari atas.  Sambil menunggu Azam, istri saya dan Sugi, saya melihat sekeliling ada beberapa tenda didirikan disana.
“Udah makan mas?” tanya saya pada mas agus.  “udah mas” jawabnya yang sedang tidur-tiduran beralaskan matras. Sugi segera mengeluarkan trangia untuk memasak air, lalu membuatkan kopi dan teh.  Kami menyantap makan siang yang sudah kami bungkus tadi pagi di basecamp Pak Parman.


Tanjakan terakhir sebelum masuk Pos 3

Dari Pos 3 tampak bukit yang harus kami daki untuk mencapai Sabana 1 dimana kami berencana untuk mendirikan tenda malam nanti.  Selang 1 jam, setelah kami beres makan dan ngopi-ngopi, rombongan mas Juned memasuki Pos 3.  “wah, udah lama ya disini?” ujar mas Juned. 
Tak berapa lama kemudian kami ber 5 pamitan ke mas Juned cs untuk melanjutkan perjalanan.
Untuk menuju Sabana 1 dari Pos 3 dibutuhkan waktu sekitar 45 menit mendaki bukit yang lumayan menanjak jalannya.


Sabana 1 dilihat dari Pos 3
 
Ketika saya, istri dan Azzam tiba di Sabana 1, tampak mas Agus, mas Nang dan Sugi sedang memasang tenda.  Tampak ada beberapa tenda kelompok lain yang ada disana.  Jam masih menunjukkan pukul 3.30.  Kami pun segera berkeliling di sekitar Sabana 1, yang pemandangannya cukup cantik.

Keesokan paginya, sekitar jam 7 yang berniat untuk ke Puncak sudah bersiap-siap untuk berangkat setelah sarapan.  Azzam tidak berniat untuk ke Puncak yang berjarak sekitar 2 jam dari sabana 1.  “Kita disini aja ya, pak?” ujarnya. Jadilah saya menemani Azzam di sabana 1. Mas Nang akan menemani teman-teman yang ke puncak, sedangkan mas Agus akan bersama kami di sabana 1. 
Pagi yang dingin dan berkabut, tampak sedikit puncak Gunung Merapi dari depan tenda kami, namun tak berapa lama, Puncak Gn. Merapi tersebut tak tampak sama sekali, tertutup oleh kabut.
Saya dan Azzam hanya sampai di sabana 2.  Selanjutnya yang lain meneruskan perjalanan menuju puncak.  Angin yang bertiup cukup kencang menemani perjalanan saya dan Azzam kembali ke Sabana 1.


Menuju sabana 2.  Mengantarkan yang ingin ke puncak

Sekitar pukul 11, saya ditemani Wawan, anak dari Solo yang memasang tendanya dekat rombongan kami menuju Sabana 2.  Maksud saya untuk menjemput rombogan yang akan turun.  Namun tak begitu lama di kaki bukit Sabana 2, hujan kecil pun mulai turun.  Saya dan Wawan memutuskan untuk kembali ke tenda saja.
Menjelang tengah hari, satu persatu rombongan yang ke puncak sampai di sabana 1 ditemani kabut yang membuat jarak pandang hanya sekitar 10 meter saja.
Saya langsung membuatkan teh hangat untuk menyambut mereka, berlanjut dengan memasak makan siang.  Sekitar jam setengah dua siang, kami memutuskan untuk turun.


Menembus kabut
Setengah jam menuruni bukit dari Sabana 1 yang masih berkabut, dan bertemu dengan para pendaki yang baru naik hari sabtu itu ada salah seorang yang mengatakan kepada kami “di Pos 3 ada badai pasir”.  Tak lama kemudian ketika kami tiba di Pos 3 yang areanya cukup luas, namun dikarenakan kabut dan angin kencang, jarak pandang hanya sekitar 7 meter saja. 


Masih ditemani kabut
 
Tak berhenti di Pos 3, kami melanjutkan perjalanan dan hujapun makin besar.  Kami semua berhenti sebentar untuk memakai jas hujan.  Seperti biasa, saya selalu mengecek kondisi Azzam.  “Azzam kedinginan gak” tanya saya.  “Nggak pak” jawabnya.  “Itu bibir kamu kok biru?” spontan mata saya melihat ke bibirnya yang memang kebiru-biru an.  “kan ini bekas raspberry, pak” ujarnya setengah tertawa.  Wah iya ya, saya ingat ketika kami di tenda hal ini pun sudah kami bahas.
Jalanan yang licin dan menjadi jalur air, membuat kami harus ekstra berhati-hati.
Hingga kami tiba di basecamp, hujan tak kunjung reda.  


Diantara hujan dan kabut

Setibanya di basecamp, segera berganti pakaian lalu kami memesan soto dan teh manis untuk menghangatkan tubuh sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kaliurang.
Menembus hujan malam itu, saya, istri, Azzam dan Sugi diantarkan oleh mas Gito ke Kaliurang.  Tiba di Kaliurang kami ke warung sate, setelah menyimpan barang-barang di hotel.
Malam itu juga mas Gito kembali ke basecamp di Selo.


Azzam dan Pak Parman


Basecamp Pak Parman


Keesokan paginya, sesuai dengan janji kami menuju kawasan Merapi dengan menggunakan Jeep Willys keluaran tahun 1942.
Berwisata di kawasan merapi, kami menyinggahi beberapa tempat.  Diantaranya museum merapi, batu alien, bunker dan berakhir di sungai dimana jeep akan berputar-putar menerjang air hingga membuat para penumpang berteriak kegirangan.


Di kawasan Merapi


Byuuurrrr.....

Selesai ber jeep ria, kami kembali ke hotel untuk bersiap-siap melanjutakan perjalanan ke Jogya.  Kami hanya mempunyai 3 jam sebelum harus check-in dibandara untuk kembali ke Jakarta.  Dengan waktu yang tak begitu lama, kami hanya menghabiskan waktu di kawasan Malioboro.
Jam 5 lebih sepuluh kamipun meninggalkan Malioboro menuju bandara, sementara Sugi masih akan menginap semalam disana sebelum kembali ke Jakarta esok harinya.

Menembus hujan yang membasahi Jogya dan sekitarnya malam itu, berarti juga kami harus mengakhiri perjalanan kami kali ini.

7 comments:

  1. Wah keren putramu mas. Aku abwa teman sampe pos 3 aja nyebut-nyebut orangnya. Lah pas liat Pos 3 ke Sabana 1 makin kaget hahahahahah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih, mas. alhamdulillah dia sudah dibiasakan untuk trekking semenjak kecil dan juga persiapan setiap sebelum pendakian

      Delete
  2. Seru bang Dede! Kami pengen coba lebih banyak naik gunung di Indonesia. Btw, biasanya kalo beli climbing gear di mana? kayak jaket, sepatu, walking stick, dll? So far kami biasanya belinya pas lagi di luar. Siapa tau bang Dede ada info store yg oke ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks Adam & Susan. kalo untuk perlengkapan mountaineering dulu kita bisa beli di beberapa tempat sih. tapi sekarang sekarang kami punya "kewajiban" untuk bawa/pake brand eiger sebagai ambassador :)) kalo untuk produk eiger, setahu gw malah udah ada distributornya di jerman bbrp tahun lalu...

      Delete
  3. Azzam staminanya mantap, deh. Abis naik gunung masih wisata merapi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...tiap naik gunung diusahakan memang masih ngelakuin hal-hal lainnya sih :))

      Delete
  4. Kuat juga itu anak kecil, salutlah hehe

    ReplyDelete

Tips Memilih Jadwal Keberangkatan Saat Berlibur Bersama Balita

Pergi liburan bersama keluarga merupakan salah satu kegiatan yang pastinya menjadi wishlist di tiap tahunnya. Punya waktu yang bisa...