Friday, January 13, 2017

Taman Nasional Bali Barat Bagian 1 – Bertemu Uca dan Menanam Bakau di Hutan Mangrove (#FamilyGoesToNationalPark)




 
Bali, pulau yang menjadi pilihan kami untuk perjalanan #familygoestonationalpark kali ini.  Kebetulan ketika seperti biasa kami mendiskusikan rencana perjalanan, Azzam menyampaikan keinginannya untuk ke Bali.  Dari cerita yang pernah dengar cerita dari teman-teman nya yang sudah pernah berlibur ke Bali, membuat dirinya tertarik untuk mengunjungi Pulau Dewata tersebut.

Sesuai kesepakatan bersama mulailah saya mencari informasi tentang Taman Nasional Bali Barat (TNBB), yang memang karena posisinya terletak di Bali bagian barat.
Dengan luas mencapai 19.002 hektar ini areal perairannya hanya sekitar 3.415  dan selebihnya adalah merupakan areal daratan. Taman Nasional yang terdiri dari berbagai habitan hutan dan sabana ini juga merupakan tempat bagi sekitar 160 species hewan dan tumbuhan yang dilindungi.   Taman Nasional ini merupakan tempat terakhir untuk menemukan satu-satunya endemik Bali yang hampir punah, Jalak Bali di habitat aslinya.

Berangkat dengan pesawat paling pagi dari Jakarta, akhirnya kami mendarat di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 07.30.  Dengan mobil yang sudah kami pesan sebelumnya, langsung melaju menuju Gilimanuk.  Ya, Taman Nasional yang lokasi nya dekat dengan Pelabuhan Gilimanuk ini kami tempuh selama sekitar 4,5 jam.
Jam sudah meunjukkan pukul 3 sore ketika kami memasuki halaman Kantor Balai Taman Nasional Bali Barat.  Turun dari mobil kami sempat celingak celinguk disekitar.  “Wah, kok gak ada orang ya?” ujar saya.  Namun tak berapa lama mucul seseorang yang menyapa kami.  Mas Iwan namanya.  Ia yang biasa ditugaskan oleh Balai ketika ada tamu yang ingin berkunjung ke TNBB.  Kami menyatakan maksud dan tujuan kami datang ke tempat itu.  Kamipun menyepakati itinerary selama kami disana.

“Kita kesana sekitar setengah jam lagi aja, soalnya sekarang air masih surut” saran Mas Iwan.  Kami sepakat  untuk mengeksplor hutan mangrove.  Dengan menumpang perahu sewaan, kami menelusuri kawasan hutan mangrove tersebut yang termasuk kawasan TNBB.

Memulai menelusuri hutan mangrove

Perahu melambat ketika kami mulai memasuki kanal.  Setelah perahu berhenti di suatu titik, kami segera turun dari perahu.  Tak begitu lama menginjakkan kaki dalam lumpur, kami segera kembali ke perahu karena hujan mulai turun.
Dalam penelusuran di hutan mangrove tersebut selain sempat melihat keberadaan kepiting uca, kepiting khas mangrove yang mempunyai 1 capit berukuran besar, Azzam juga sempat menanam beberapa tanaman bakau.  “Semoga tumbuh ya” ujarnya dengan senyum setelah selesai menanam.


Menyapa sang penghuni hutan mangrove

Menanam tanaman bakau (foto: NZ Anastasia)
 
Penelusuran di hutan mangrove kami lanjutkan dengan perahu dibawah siraman hujan.  Deru mesin perahu seakan berlomba dengan suara hujan.  Tampak ada beberapa burung penghuni hutan mangrove terbang yang sepertinya mencoba berteduh dengan mendarat di antara pohon-pohon.  Sebenarnya kami berencana untuk melihat kehidupan bangau liar di area hutan mangrove tersebut, namun terpaksa kami urungkan karena untuk menuju kesana ombak diperkirakan akan membersar dengan hujan yang deras dan angin bertiup lumayan kencang.

Selepas dari hutan mangrove, kami menuju salah satu hotel disana tempat kami menginap, Hotel Lestari.  Hotel ini lumayan bersih dan nyaman.  Berbeda dengan apa yang saya baca di internet. Pak Iwan sang pengelola bercerita tentang renovasi yang dilakukan pemilik baru hotel tersebut.  Ketika kami disana, memang masih terlihat beberapa pengerjaan yang masih dilakukan.
Setelah berbincang-bincang dengan pak Iwan, kamipun permisi untuk masuk ke kamar dan membersihkan diri sebelum beristirahat.


Kepiting Uca
 
Terima kasih Hutan mangrove :)


No comments:

Post a Comment

Tips Memilih Jadwal Keberangkatan Saat Berlibur Bersama Balita

Pergi liburan bersama keluarga merupakan salah satu kegiatan yang pastinya menjadi wishlist di tiap tahunnya. Punya waktu yang bisa...