![]() |
Danau Weekuri dari atas tebing |
“Kalau gitu nanti kita bungkus nasi saja untuk
makan siang disana” ujar saya ketika mengetahui bahwa untuk mencapai Danau Weekuri
dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Nasi
padang dengan pilihan lauk pauk yang masing-masing sudah terbungkus rapih,
perjalanan berlanjut.
Udara Sumba yang lumayan panas siang hari itu
menemani perjalanan kami. Niko bertutur
tentang Danau Weekuri, dimana dia sudah beberapa kali mengantarkan tamunya
kesana. Memang akses menuju Danau
Weekuri ini terbilang cukup terpencil di wilayah selatan, Sumba Barat Daya
membuat tempat ini seperti tersembunyi.
Weekuri sendiri
berasal dari bahasa Sumba, yakni wee
artinya air dan kuri artinya parutan
atau percikan. Weekuri artinya air hasil parutan karang yang menerobos ke
daratan, kemudian membentuk danau. Dan ternyata benar, ketika kami tiba disana tampak pemandangan danau berwarna toska yang memukau.
Danau Weekuri adalah
danau air payau berbentuk laguna yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Tebing karang dengan tinggi sekitar 30 meter
menjadi dinding alami yang memisahkan ombak besar dari laut dengan danau ini.
Menurut orang lokal
yang saya temui saat ngopi, pada hari sabtu, minggu atau hari libur tempat ini
ramai oleh orang-orang yang datang dengan berbagai tujuan. Ada yang datang untuk mandi/berenang,
memancing, sekedar bersantai menikmati keindahan danau dan panorama alam
sekitarnya. Sedangkan pada hari-hari lain, tempat ini sepi oleh
pengunjung. Seperti hari ini, karena ini
bukan hari libur, saat kami disana hanya ada 2 orang asing yang sudah berada
lebih dahulu. Sekitar sejam kami disana,
mereka pun tampak meninggalkan tempat itu.
Tinggal lah kami bertiga sebagai pengunjung.
![]() |
Bak Kolam renang pribadi (1) |
![]() |
Bak kolam renang pribadi (2) |
Namun hal tersebut tak
berpengaruh pada kami, karena tak butuh waktu lama, kami berbaur bersama
anak-anak lokal. Berenang, menyelam dan loncat bersama-sama
dari tempat tinggi yang memang sudah disiapkan.
![]() |
Tempat untuk loncat |
![]() |
Menyelam |
Waktu terasa berlalu
begitu cepat saat saya mengajak Azzam untuk segera keluar dari dalam danau
untuk segera beres-beres karena kita harus kembali ke kota.
“Nanti disana, kita
jangan terlalu kesorean, karena tempatnya yang terpencil dan jalanan yang belum
ada penerangan juga”. Ingat saya akan
pesan Niko.
Dengan sedikit berat
hati karena merasa belum puas menikmati Danau Weekuri, kami pun meninggalkan
tempat itu dengan dilepas oleh anak-anak yang sejak tadi bermain bersama kami.
Benar-benar semacam kolam renang pribadi. Saya mengetahui danau ini dari salah satu acara televisi. Hehehehheh
ReplyDeleteIya, pas timing nya lagi sepi hahaha
Delete