![]() |
Bukit Laybola |
“Selamat pagi ?” ujar saya menyapa seseorang
yang sedang duduk di teras rumah Raja Prailiu.
“Selamat Pagi” ba;asnya sambil
tersenyum. “Om Melky ya ?” lanjut saya dan ia pun mengangguk. Saya lalu memperkenalkan istri dan anak saya.
Dua
hari sebelumnya saya sudah sempat berbicara dengan om Melky namun belum bertemu
langsung. Om Melky lah yang akan
mengantarkan kami untuk ke Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.
Tak
lama kemudian, Mama Eta sang tuan rumah keluar lalu menyuruh kami untuk
menyantap sarapan pagi sebelum meninggalkan Kampung Prailiu.
Taman
Nasional Laiwangi-Wanggameti yang akan kami kunjungi merupakan perwakilan semua
tipe hutan di Pulau Sumba, termasuk hutan elfin
yang jarang terdapat dan memiliki keanekaragaman jenis bernilai cukup tinggi
terutama yang terdapat pada ketinggian 800 meter dari permukaan laut.
Gunung
Wanggameti (1225 mdpl) yang masuk dalam wilayah Taman Nasional adalah titik
tertinggi di Pulau Sumba, salah satu provinsi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kawasan
Taman Nasional Laiwangi Wanggameti merupakan bagian tak terpisahkan dari
lingkungan sekitarnya dimana keduanya terjadi interaksi yang saling
mempengaruhi. Oleh karena itu kelestarian yang menjadi prinsip pengelolaan
kawasan konservasi harus mencakup tiga aspek yakni kelestarian ekologi,
kelestarian ekonomi, dan kelestarian sosial budaya.
Taman
Nasional Laiwangi-Wanggameti merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti
kera ekor panjang (Macaca fascicularis fascicularis), babi hutan,biawak, ular
sanca Timor, dan ayam hutan. Selain itu, merupakan populasi utama burung walik
rawamanu, punai Sumba dan berbagai jenis burung lainnya seperti gemak Sumba,
kakatua cempaka, nuri, sikatan Sumba, kepodang-sungu Sumba, dan madu Sumba. Kakaktua menjadi ikon dari Taman Nasional
yang dijadikan Taman Nasional pada tahun 1998.
![]() |
Pintu masuk taman nasional Laiwangi Wanggameti |
Pada
awalnya ada 2 Taman Nasional di Pulau Sumba, namun pada tahun 2016 kedua taman
nasional tersebut yaitu Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti disatukan
dengan luas mencapai 90.142 hektar yang mencakup wilayah Sumba Barat, Sumba Tengah
dan Sumba Timur. Taman Nasional Laiwangi
Wanggameti yang kami datangi ini berada di wilayah Sumba Timur.
Sekitar
45 menit berkendara dari Kota Waingapu sampailah kami di pertigaan KM. 45
meninggalkan jalan utama. Jalanan masih
beraspal namun sudah mulai mengecil.
Dengan kontur yang berkelok-kelok dan menanjak. Terlihat om Melky sudah terbiasa dengan jalur
ini dikarenakan dia adalah salah satu karyawan dari Kantor Balai Taman Nasional
Matalawa (Manupeu Tana Daru dan Laiwangi Wanggameti), kendaraan yang kami
gunakan pun merupakan bantuan dari Kantor Balai.
“ini dia
pertigaan Tanimbang”
ujar om Melky sesaat dia menghentikan mobil.
Rupanya dia mau membeli air minum dan rokok. Saya pun turun ikut berbelanja.
Perjalanan
berlanjut, tapi kini jalanan mulai medan tanah dan batu-batuan. Makanya untuk ke taman nasional Laiwangi
Wanggameti dibutuhkan kendaraan berpenggerak 4 roda (4 wheel drive) seperti
yang kami gunakan. Apalagi di akhir
bulan maret ini, curah hujan masih lumayan tinggi.
Setelah
menempuh perjalanan sekitar 4 jam, sampailah kami di Kantor Resort Praingkareha
di Wudi pandak. Kami disambut oleh Apollos
dan satu orang lagi yang saat itu bertugas di kantor resort. Begitu menurunkan barang kami memutuskan
untuk segera menuju Laputi.
Di
Laputi kami pergi ke Danau Laputi, danau yang airnya sangat jernih berwarna
biru kehijauan akibat pantulan sinar matahari yang mengenai dasar danau. Teman-teman yang disana sempat bercerita
tentang legenda Apu, yang berarti nenek.
Ada kepercayaan di nmsyarakat Sumba percaya bahwa Apu adalah nenek
moyang mereka. Disana kami sempat
melihat beberapa ekor Apu. “kalian
beruntung bisa ketemu dengan Apu” ujar om Melky.
![]() |
Danau Laputi |
Perjalanan
kami lanjutkan ke air terjun Laputi yang airnya mengalir ke danau tadi. Pemandangan indah, air terjun yang bertingkat-tingkat terpampang didepan mata.
Disana
kami memuaskan berenang di ari yang lumayan dingin, sekaligus menghilangkan
keringat kami setelah trekking tadi. Hari
semakin sore, kamipun kembali ke kantor resort dimana kami akan bermalam.
![]() |
Air Terjun Laputi |
![]() |
Bermain air |
Jam
05 pagi kami sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Bukit Laybola. Untuk menuju puncak bukit kami harus trekking
selama sekitar 1 jam saja. “Disini salah
satu tempat pengamatan burung” ujar Apollos sambil mengunakan teropong
(binacullar) nya. Kami pun diberikan kesempatan untuk melihat pemandangan
sekitar dengan binacullar secara bergantian.
“Kelihatan pak burung-burungnya diatas pohon”, ujar Azzam.
Saat
itu kami beruntung masih dapat melihat beberapa ekor burung yang berada di
pohon-pohon tinggi meskipun dari kejauhan, seperti mengintip-intip.
![]() |
Trekking |
![]() |
Azzam mengintip Kakaktua |
Matahari
mulai meninggi, kami pun memutuskan untuk turun. Selang beberapa puluh meter berjalan, awan
yang mulai menggelap, diikuti oleh turunnya hujan. Semua orang segera memakai jas hujan
masing-masing untuk melanjutkan perjalanan.
Kami sempat berhenti di salah satu sungai kecil di dalam hutan.
Sampai
kembali di kantor resort, kami masih mempunyai waktu untuk mandi, membersihkan
diri sebelum makan siang. Setelah pamit dan berterima kasih pada 2 petugas
taman nasional yang sudah membantu selama disana, kami harus meninggalkan Taman
Nasional ini untuk melanjutkan perjalanan ke Sumba Barat.
![]() |
Di depan Kantor Resort |
No comments:
Post a Comment